Subscribe to web2feel.com
Subscribe to web2feel.com
http://sadar-islam.blogspot.com/2010/05/pendahuluan-ketika-amerika-serikat.html Menggagas Diplomasi Politik Luar Negeri Islam Ketika Amerika Serikat pasca peristiwa 911, membagi blok dunia menjadi blok Amerika dan blok teroris dengan kebijakan George W Bush “Either you are with us or you are with the terorist”. Dengan kebijakan ini, menyebabkan penguasa negeri-negeri muslim mengekor dan membela Amerika. Dari sini tampak nyata ketakutan dan lemahnya umat Islam. Politik luar negeri muslim yang mengekor Negara adidaya menjadi bahan pembelajaran bagaimana mengembalikan politik luar negeri Negara Islam berikut dengan diplomasi-diplomasi mutakhirnya. http://sadar-islam.blogspot.com/2010/05/pendahuluan-ketika-amerika-serikat.html

Read More →

CahayaBiru.com

Jumat, 24/07/2009 16:58 WIB, sumber: eramuslim.com

Hamas menolak dan menyangkal sebuah laporan dari media Israel pada Jumat ini yang menyatakan bahwa gerakan tersebut telah mencuri dan mengalihkan dana sumbangan kemanusiaan internasional untuk rekonstruksi Gaza setelah porak poranda sewaktu perang lalu.

Salah seorang petinggi Hamas - Ismail Radwan mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Ma'an bahwa laporan yang disampaikan oleh Israel tersebut adalah sebuah kedustaan, yang tujuannya untuk melanjutkan blokade perbatasan Gaza. Dia juga mengatakan bahwa bantuan asing yang masuk ke Gaza semuanya di awasi oleh Israel, bukan Hamas yang memegang kekuasaan di jalur Gaza.


Negara-negara donor, termasuk AS, negara Eropa dan negara Teluk, telah menjanjikan milyaran dollar untuk membantu dan membangun kembali Gaza setelah di luluh lantakkan oleh pasukan Israel dalam perang tiga minggu pada akhir musim dingin lalu, sekitar 1500 orang gugur akibat serangan brutal Israel tersebut.

Gerakan Hamas yang memerintah di Gaza, yang memenangkan pemilu parlemen di tahun 2006, secara resmi di boikot oleh sebagian besar masyarakat internasional dan Israel. Bantuan asing yang datang lebih banyak disalurkan melalui badan-badan PBB, LSM internasional dan pemerintahan di Ramallah yang berbasis pada Otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas dari gerakan Fatah.

Sebagian besar upaya rekonstruksi telah tertunda, karena Israel telah melarang bahan-bahan konstruksi seperti baja dan semen memasuki Gaza.

Menurut surat kabar sayap kanan Israel - Jerusalem Post, kementrian pertahanan Israel telah mengedarkan sebuah dokumen yang menyatakan bahwa Hamas dan serikat pekerja telah mengadakan pembicaraan dengan agen PBB untuk mendistribusikan bantuan internasional.

Laporan mengatakan bahwa, menurut dokumen tersebut, pertemuan diadakan pada 12 Juli antara agen PBB bagi pengungsi Palestina UNRWA, UNDP dan pejabat Hamas serta persatuan kontraktor dan insinyur di jalur Gaza. Pertemuan tersebut menurut laporan membicarakan mekanisme pendistribusian bantuan.

Apa yang terlihat semakin menjadi jelas, menurut surat kabar tersebut juga menyatakan bahwa pemerintahan Hamas di Gaza sedang mengatur aliran bantuan yang masuk ke Gaza. "Semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke jalur Gaza hari ini harus mendapat ijin dari Hamas," kata seorang pejabat Israel kepada Jerusalem Post.

Juru bicara UNRWA - Chris Gunnes telah merespon laporan yang di muat di Jerusalem Post dan mengatakan,"UNRWA mendistribusikan bantuannya pada kebutuhan dasar rakyat Gaza. Kebutuhan dasar manusia tidak perlu di diktekan kepada kami cara mendistribusikannya."(fq/mna)

Diposting oleh BANGKIT 14 Juli 2009 0 komentar

Diskursus Ideologi

Oleh: Ahmad Jaelani

Pembahasan tentang ideology mungkin untuk sebagian kalangan akan dinilai sudah biasa atau lumrah, namun untuk sekedar ‘menyegarkan’ bagi yang sudah faham sekaligus juga memberikan ‘tambahan’ ilmu untuk yang belum sempat mengenal, mengetahui, atau belum secara penuh memahaminya, tidak salahnya saya mengulang kembali pembahasan ini.

Hal yang mendorong saya untuk menulis judul ini adalah adanya sebagian orang yang melihat idelogi dengan selintas, atau memahamimya sebatas sebagai sebuah dasar, asas atau landasan semata. Implikasi dari pemahaman seperti ini adalah sikap generalisir terhadap setiap pemikiran yang kemudian dianggap sebagai sebuah ideology bahkan layak disebut ideology. Term – term seperti ideology pancasila, ideology keadilan, ideology nasionalis dan kawan-kawanya menjadi ‘santapan’ telinga kita dalam forum-forum atau pertemuan-pertemuan.

Oleh karena itu, mendesak kiranya kita membahas definisi ideology ini secara komprehensif dengan harapan mudah-mudahan dari pembahasan ini, kita bisa membedakan dan memahami ‘watak’ sebuah ideology sehingga pemilahan pemikiran mana yang layak dimasukan sebagai ideology atau yang tidak menjadi perkara yang tidak musykilah.

Secara etimologis, ideology berasal dari bahasa Greek yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Sedangkan dalam kamus The advance Learner's Dictionary, idea diartikan dengan something existing in the mind as the result of the formulation of an opinion, a plan or the like. (sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana). Kata logia mengandung makna ilmu pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari kata legein yaitu to speak atau berbicara.

Dalam pandangan lain, Ideology diartikan sebagai kumpulan ide atau gagasan dimana katanya sendiri diciptakan oleh Destertt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan ‘sains tentang ide (Wikipedia.com). Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideology adalah pengucapan/ pengutaraan apa/ sesuatu yang terumus di dalam pikiran sebagai hasil dari pemikiran.

Dari tinjauan secara bahasa, maka sah-sah saja jika term-term pemikiran seperti diungkap di atas disebut sebagai ideology, yaitu sebuah pemikiran, teori, atau kumpulan ide/ gagasan. Namun, sebuah istilah tidaklah cukup ditinjau dalam aspek linguistik an sich, harus dijelaskan secara terminologis agar makna yang diingini oleh kata tersebut mencakup apa yang dimaknakan dan menolak segala yang tidak termasuk dari kata tersebut.

Dalam tinjauan terminologis, banyak kalangan yang telah mendefinisikannya, diantaranya; menurut the Webster's new collegiate dictionary: Ideology is Manner or content of thinking characteristic of an individual or class (cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat tertentu dari seorang individu atau suatu kelas).

Menurut websters students dictionary, ideology adalah ideas characteristic of a school of thinkers a class of society, a plotitical party or the like (watak/ ciri-ciri hasil pemikiran dari pemikiran suatu kelas di dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya). Destertt de Tracy sendiri mengartikan Ideologi sebagai studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu. (wikipedia.com).

Dalam padanan bahasa Arab, ideology disepadankan dengan al mabda’. Dimana, secara etimologis adalah mashdar mimi dari kata bada’a yabdau bad’an wa mabda’an yang berarti permulaan.

Secara terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun diatasnya pemikiran-pemikiran (cabang )[dalam Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, entry al-Mabda’]. Al-Mabda’ (ideologi) : pemikiran mendasar (fikrah raisiyah) dan patokan asasi (al-qaidah al-asasiyah) tingkah laku. Dari segi logika al-mabda’ adalah pemahaman mendasar dan asas setiap peraturan [lihat catatan tepi kitab Ususun Nahdhah ar-Rasyidah, hal 36]. An-Nabhani mengartikan idelogi atau al mabda’ sebagai ‘aqidah aqliyah yanbatsiqu ‘anha nizham (akidah rasional yang memancarkan system) (an-Nabhani, 2001)

Dengan melihat definisi di atas, ternyata antara ideology dan al mabda merupakan satu makna, yaitu pemikiran mendasar yang rasional atau inti hasil pemikiran manusia yang dibangun di atasnya pemikiran cabang (baca: system kehidupan). Atau dapat juga diartikan sebagai pemikiran mendasar yang dapat memancarkan system sekaligus metode untuk menerapkan, menjaga dan menyebarkannya.

Jadi dari beberapa definisi di atas, ideology ternyata memiliki beberapa ‘watak’, yaitu pertama, dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan system untuk mengatur kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga harus memiliki metode praktis bagaimana ideology tersebut bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan.

Dari pemaparan tersebut, kita sekarang bisa menilai apakah setiap pemikiran bisa dikatakan sebagai sebuah ideology atau tidak? Standarisasinya adalah, dengan melihat watak-wataknya. Apakah merupakan pemikiran mendasar? Artinya betul-betul pemikiran dasar, tidak ada lagi pemikiran di bawahnya? Apakah memiliki konsep-konsep (system) kehidupan dalam semua aspek: ritual, politik, ekonomi, social, budaya dan lainnya? Sekaligus memiliki metode penerapan, penjagaan dan penyebaran konsep-konsep ideology tersebut? standarisasi ini bisa dilihat dari kitab, buku, literarur, atau sumber-sumber yang dijadikan rujukan oleh pemikiran tersebut dan dari segi realitas implementasi dalam sejarah ataupun masa sekarang.

Jadi tidak semua pemikiran bisa dikatakan ideology. Wallahu’alam

Diposting oleh BANGKIT 0 komentar

Tafakkur Diri….Harus!

Oleh: Ahmad Jaelani

Berfikir merupakan hal yang biasa manusia lakukan setiap waktu. Mungkinkah ada manusia yang tidak berfikir? Kayaknya sukar kita menjawab pertanyaan ini, karena manusia sudah kadung memiliki julukan sebagai hewan yang berfikir “al insan al hayawan al nathiq” begitu menurut para ahli ilmu mantiq. Kalau pun ada yang tidak mampu berfikir mungkin manusia yang ‘maaf’ sedikit terganggu akalnya.

Walaupun setiap manusia normal berfikir setiap waktu, namun derajat pemikiran diantara manusia berbeda-beda. Ada yang melakukan pemikiran dangkal (fikr al sathi), berfikir mendalam (fikr al ‘amiq) dan ada juga yang berfikir cemerlang (fikr al mustanir). Berpikir dangkal merupakan pemikiran kebanyakan manusia, berpikir mendalam merupakan pemikiran para intelektual sedangkan berpikir cemerlang merupakan pemikiran para pemimpin dan orang-orang yang berpikir cemerlang dari kalangan para ulama dan umumnya manusia yang terbina. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab al Tafkir menyimpulkan bahwa berfikir secara cemerlang merupakan pemikiran yang paling tinggi derajatnya (An Nabhani, 2003; hal. 121-130).

Salah satu kata yang biasa kita dengar dan masih berkaitan dengan berfikir adalah tafakkur. Kata tafakkur secara bahasa mengandung makna sama dengan kata tafkir yaitu pemikiran (Al-‘Ashry, 1996; hal. 534). Pemikiran (fikr), kesadaran (al-idrak) adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai dengan adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. (An Nabhani, 2003; hal. 25). Sedangkan secara istilah, tafakkur mempunyai makna khusus, yaitu merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. (Al Haddad, 1996; hal. 118). Tujuan dari tafakkur adalah mengenal Zat Pencipta manusia, alam dan kehidupan ini lalu kemudian meyakini akan adanya Pencipta, serta bagi yang sudah meyakini-Nya agar memperkokoh keimanan kepada-Nya.

Siapa Kita?: Sebuah proses mentafakkuri diri.
Pernahkah Anda berfikir tentang diri Anda sendiri? Siapakah Anda? Darimana Anda? Apa tujuan hidup Anda? Dan akan kemana Anda? Secara singkat, mudah saja kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahwa kita adalah manusia, kita diciptakan oleh Allah, beribadah tujuan hidup kita, mati! akhir dari hidup kita. Namun pembuktian dan hakekat jawaban itulah yang kadang belum kita temukan solusinya. Maka wajar, walaupun sudah ditemukan jawabannya akan tetapi tetap terasa hambar dan tidak menjadi penuntun dalam kehidupan ini.

Dari mana kita?
Anda, Saya dan Kita adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang serba lemah, terbatas, selalu butuh pertolongan dan bantuan. Coba saja Anda buktikan dengan tidak makan dan minum selama seminggu, Anda mungkin lemas tak bisa berjalan lagi, Anda akan butuh bantuan orang lain untuk menolong diri Anda sendiri, bahkan bisa jadi Anda tidak akan menghirup udara yang segar lagi karena nafas Anda sudah berhenti. Inilah fakta kita sebagai manusia, bahwa manusia sangat terbatas dan butuh kepada sesuatu yang tidak terbatas. Asal-usul kita pun kalau kita telusuri akan ada batasnya, bahwa kita dari kedua orang tua kita, kedua orang tua kita dari kakek dan nenek kita, kakek dan nenek kita dari kedua orang tua kakek dan nenek kita, dan seterusnya hingga sampai kepada Adam dan Hawa, Hawa dari tulang rusuk Adam, Adam dari tanah, tanah dari alam, alam dari atom, atom dari tidak ada menjadi ada. Lalu siapa yang mengadakan? Pasti ada yang menciptakan, Dialah Al Khaliq yang kita kenal dengan Allah Rabbu al ‘Izzati. Jadi manusia berasal dari (diciptakan oleh) Allah SWT.

Apa tujuan hidup kita?
Setelah kita faham bahwa kita diciptakan oleh Allah, dan tentu saja Dia menciptakan sesuatu disertai dengan aturannya. Maka untuk mengetahui tujuan diadakannya manusia adalah dengan bertanya kepada-Nya. Wa mâ khalaqtu al jinna wa al insa illa li ya’budûn. Begitulah jawaban Allah dalam surat al Dzariat ayat 56, bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah. Beribadah dalam artian taat sepenuhnya kepada Allah SWT dalam segala bidang. Kata tha’at sendiri sebenarnya mengandung pengertian taqwa, yaitu menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Jadi antara pertanyaan ”dari mana kita?” dengan pertanyaan ”untuk apa kita hidup?” terdapat hubungan penciptaan dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Kita hidup di dunia berarti bertujuan untuk taat kepada-Nya dalam setiap saat, setiap keadaan, dan segala aspek. Dengan demikian seorang yang shalat, seorang yang puasa, seorang yang berzakat seorang yang berhaji juga harus menjadi seorang yang berekonomi dengan Islam, bersosial dengan Islam, berpolitik dengan Islam, berpemerintahan dengan Islam, berpendidikan dengan Islam dan segala aspek harus dengan Islam. Kenapa ini harus dilakukan? Tiada lain karena ketaatan (ibadah) kita kepada Allah SWT. sebagai Pencipta.

Mau kemana kita?
Setiap manusia pasti akan mati dan meninggalkan kehidupan, ini merupakan suatu hal yang lumrah atau dalam bahasa lain dikenal dengan sunnatullah. Tidak ada manusia yang kekal. Al Qur'an pun menjelaskannya:
"dan tiap-tiap umat ada ajalnya, apabila telah datang ajal kepada mereka tidak ada yang bisa mengakhirkan dan tidak ada pula yang bisa memajukannya walau sesaat"(TQS. Al 'Araf (7):34).

Permasalahannya akan kemana kita setelah mati? Dalam Islam terdapat hubungan antara kematian dan kehidupan setelah kematian. Hubungan tersebut adalah hubungan kebangkitan dan penghitungan. Manusia yang telah mati akan dibangkitkan kembali dalam rangka mempertanggungjawabkan 'amalan ketika hidup di dunia. 'Amalan manusia akan dihisab sesuai dengan seberapa besar ketaatan manusia terhadap perintah dan larangan Allah AWT (syari'at) ketika merasakan hangatnya dunia. Jadi untuk menjawab akan kemana kita setelah mati adalah kita akan dibangkitkan kembali untuk menjalani proses penghisaban diri. "barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah maka akan ada balasannya, dan barangsiapa mengerjakan keburukan sebesar zarrah maka akan ada balasannya" (TQS. Al Jaljalah (99):7-8).

Sebagai kesimpulan, setelah kita memahami secara mendalam tentang permasalahan mendasar di atas, maka seyogyanya kita akan selalu merasa rendah dan tunduk di hadapan Allah SWT. Kemudian implementasi ketundukan kita adalah dengan menjadikan aturan-Nya sebagai standar kehidupan kita semua, baik dan buruk menurut Allah SWT. Kemudian harus ada selalu perasaan takut (khauf) ketika syariat-Nya tidak kita terapkan semuanya dan harapan (raja') akan rahmat-Nya dalam kehidupan dan setelah kehidupan.
Wallahu 'alam bi al shawab

Diposting oleh BANGKIT 0 komentar

Subyektifitas "MODERN"

Oleh: Ahmad Jaelani

“But the problem is that it (Islam) does not just oppose libertinism. Having never had a ‘reformation’, which would have forced it to make an accommodation with modernity, it is fundamentally intolerant and illiberal. As a result, it directly conflicts with western values in areas such as the treatment of women, freedom of speech, the separation of private and public values, and tolerance of homosexuality.
These are all liberal fundamentals and are not negotiable.”

(Melanie Phillips, Spectator, September 2002)

‘Modern’ kata yang sering kita jumpai dimana-mana, baik di buku-buku, film, angkutan umum, di mall bahkan mungkin di ‘warteg’. Kata modern sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang terbaru, mutakhir atau sikap dan cara berfikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman (Depdiknas, 2001).

Berbeda jika modern disandingkan dengan Islam, hal ini akan menjadi diskusi yang menarik.

Diskusi tentang Islam versus Modernitas telah terdorong ke garis terdepan perdebatan politik di akhir dekade ini. Semenjak peristiwa 11 September, para akademisi, komentator dan pembuat kebijakan semuanya telah termotivasi untuk melakukan kajian terhadap Islam. Namun kesimpulan yang mereka peroleh adalah bahwa Islam tidak mempunyai tempat di dunia (that Islam has no place in the world).

Mereka menyebutkan beberapa fakta, diantaranya adalah usaha gagal yang dilakukan Iran dan Taliban untuk menerapkan Islam membuktikan bahwa Islam tidak bisa diaplikasikan di abad 21. Di sini, terdapat argumentasi melawan Islam yang harus digaris bawahi, yaitu:

“ Islam mempunyai kontradiksi sempurna dengan nilai-nilai Barat yang modern, oleh karena itu Islam tidak punya tempat di dunia saat ini.”

Terlihat dari hasil kajian mereka sikap subyektifitas terhadap arti modern. Yang mana sesuatu dikatakan modern jika sesuai dengan nilai-nilai kebebasan Barat sekular, seperti kebebasan berbicara, pemisahan nilai-nilai public dan privat, kebebasan bertingkah laku hatta sikap toleran terhadap homoseksual. Walaupun demikian, patut disayangkan ternyata banyak masyarakat Islam yang malah mengamini arti kemodernan ini, bahkan menjadi pelaku dari kemodernan versi Barat tersebut. Dimulai dari cara makan sampai bentuk pemerintahan jika tidak sesuai dengan Barat, maka siap-siaplah dicap sebagai masyarakat atau negara yang ketinggalan zaman. Dari sisi ini, Islam memang tidak sesuai dengan kemodernan ‘versi Barat’.

Lalu bagaimana Islam memandang tentang kemodernan ini? Menarik menurut saya mencermati dialog antara Quraish Shihab dengan gurunya Syekh Abdul Halim Mahmud (1910-1978 M) ketika menimba ilmu di Al Azhar Mesir pada tahun 1966 M, dialog ini dimuat dalam sebuah buku berjudul “Logika Agama”. Syekh itu memaparkan tentang kedudukan Islam dalam perkembangan zaman, menurut beliau bahwa “yang paling banyak berubah dalam kehidupan masyarakat manusia adalah hal-hal yang bersifat material bukan sifat-sifat bawaan manusia”, Kemudian beliau melanjutkan bahwa “Islam menyambut baik, mendukung bahkan menganjurkan perubahan material, karena pada prinsipnya setiap perubahan dalam bidang tersebut merupakan penyempurnaan dari apa yang sebelumnya ada. Perubahan-perubahan tersebut adalah dari hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”.

Dengan demikian, jikalau modern diartikan sebagai sebuah kemutakhiran teknologi, strategi atau yang bersifat teknis (inilah yang menurut saya tepat). Maka Islam memiliki sikap yang proporsional dalam menyikapi perkembangan zaman. Dalam Islam, harus dibedakan antara peradaban dan perkembangan sarana prasarana.

Meminjam istilah an-Nabhani, bahwa hadharah (peradaban) merupakan sekumpulan ide-ide tentang kehidupan yang terkait dengan pandangan hidup (point of view) dan madaniyah (sarana prasarana) adalah bentuk fisik yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, yang sebagian bebas nilai dan sebagian yang lainnya terkait dengan pandangan hidup. Islam menolak segala sesuatu nilai, pandangan atau aturan kehidupan yang tidak berasal dari sumber-sumber hukum Islam. Maka tepat jika Islam menolak nilai-nilai Barat. Namun Islam tidak menolak bahkan mengapresiasi segala perkembangan sarana prasarana yang dikembangkan oleh siapa pun baik dari Barat atau Timur. Disinilah relevansi hadist Nabi Muhammad SAW yang menyatakan;
“ Kamu lebih mengetahui dengan urusan dunia kalian (perkembangan saint dan teknologi)” (HR. Muslim).

Walhasil, sangat tepat sikap Shahabat Umar ibnu Khattab menolak temuan buku-buku karangan orang-orang Romawi yang disodorkan panglimanya Amr bin ’Ash ketika sukses menaklukan Mesir (abad 20 H), karena memandang buku tersebut mengandung nilai-nilai di luar Islam, kemudian beliau menyitir hadits Nabi " Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnahku..." (HR: Hakim dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami':2937). Sementara itu, di sisi lain beliau menerima dan menerapkan sistem administrasi kenegaraan dari Persia pada masa kepemimpinannya, karena memandang bahwa itu murni hasil dari temuan ilmu pengetahuan. Jadi Islam selalu dan tetap konsisten dengan nilai-nilainya dan senantiasa menerima segala perkembangan zaman menyangkut saint dan teknologi.

Wallau ’alam bi al showab.

Silahkan beri komentar dengan elegan


ShoutMix chat widget